Sumenep, Aspirasi.net– Haswal Group resmi membuka pembelian perdana tembakau hasil panen petani di Kabupaten Sumenep, Madura, Senin (24/8/2026).
Dalam pembelian perdana tersebut, harga tembakau yang diserap bervariasi mulai Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, tergantung kualitas.
Pembelian perdana itu menjadi bagian dari aktivitas penyerapan hasil panen tembakau petani sekaligus membuka akses pasar bagi petani di tengah berlangsungnya musim panen tembakau.
Aktivitas pembelian terlihat dari proses pemeriksaan dan penilaian kualitas tembakau yang dilakukan di gudang utama Haswal Group.
Sejumlah tembakau yang dibawa petani ditata di atas meja untuk diperiksa secara langsung sebelum ditentukan harga dan dilakukan transaksi.
“Dengan ucapan Bismillah hari ini kita buka pembelian perdana, semoga kualitas panen tahun ini sesuai dengan keinginan kita bersama,” ucap H. Gufron saat ditemui di gudang utama Haswal Group.
Ia menjelaskan, kualitas menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan harga tembakau yang dibeli dari petani.
“Harga bervariasi mulai dari Rp50 ribu sampai Rp70 ribu tergantung kualitas tembakaunya,” imbuhnya.
H Ghufron menjelaskan bahwa pembelian ini sebagai upaya meningkatkan perekonomian petani tembakau Sumenep.
“Kami berharap petani tembakau di Sumenep sejahtera dan tetap mengupayakan kualitas tembakau terbaik pada penjualan tahun-tahun selanjutnya,” pungkasnya.
Bagi petani, dimulainya pembelian oleh Haswal Group menjadi salah satu alternatif pasar untuk menyalurkan hasil panen. Kehadiran pembeli diharapkan mampu meningkatkan penyerapan tembakau lokal sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani.
Salah seorang petani Masyhura berharap Haswal Group dapat terus meningkatkan penyerapan tembakau lokal sehingga memberikan dampak positif terhadap perekonomian petani dan masyarakat sekitar.
Menurutnya, harga dan pola pembelian menjadi faktor penting yang turut menentukan keuntungan petani. Karena itu, transparansi dalam penilaian kualitas, penentuan harga, dan mekanisme transaksi diharapkan tetap menjadi bagian dari proses pembelian.
“Pembelian perdana ini juga menjadi perhatian karena harga dan pola pembelian tembakau menjadi faktor penting yang kerap menentukan keuntungan petani. Transparansi dalam penentuan kualitas, harga, serta mekanisme transaksi diharapkan tetap menjadi bagian dari proses pembelian,” ucapnya.
Dengan dimulainya pembelian perdana tersebut, petani kini memiliki salah satu alternatif untuk memasarkan hasil panen tembakaunya.
“Kami berharap aktivitas pembelian dapat berlangsung secara berkelanjutan selama musim tembakau, sehingga hasil panen tidak hanya terserap, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang layak bagi para petani,” pungkasnya.





