Sumenep, Aspirasi.net — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep terus memperkuat budaya literasi melalui layanan perpustakaan keliling (Perpusling) yang rutin menyambangi sekolah-sekolah di berbagai wilayah.
Program ini tidak hanya menghadirkan akses bacaan bagi pelajar, tetapi juga menjadi jembatan untuk menumbuhkan minat baca sekaligus mengenalkan sejarah dan budaya lokal.
Pustakawan Ahli Muda Dispusip Sumenep Syaiful Bahri mengatakan layanan Perpusling sepanjang 2026 terus berjalan berdasarkan permohonan dari sekolah.
Sasaran layanan mencakup seluruh jenjang pendidikan. Mulai dari sekolah negeri, sekolah swasta, madrasah hingga pondok pesantren.
“Sekolah mengajukan permohonan pelaksanaan perpusling dan itu berlaku untuk semua tingkat pendidikan. Jadi, bukan kami yang menentukan sepihak, tapi memang ada permintaan dari sekolah,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, setiap kunjungan Perpusling tidak hanya membawa koleksi buku. Akan tetapi, juga menghadirkan berbagai kegiatan interaktif untuk meningkatkan minat baca siswa.
Tim Dispusip memberikan sosialisasi pentingnya membaca, menggelar permainan edukatif dan memperkenalkan buku sesuai dengan minat dan hobi para pelajar.
“Kegiatannya itu mengenalkan buku, mengajak anak-anak membaca, sosialisasi buku agar minat baca meningkat, ada game, dan edukasi buku berdasarkan hobi mereka,” jelasnya.
Selain mendorong budaya membaca, Perpusling juga dimanfaatkan sebagai media edukasi untuk mengenalkan permainan tradisional, sejarah dan budaya Kabupaten Sumenep kepada para pelajar.
“Kami juga mengenalkan permainan tradisional, sejarah Sumenep, budaya Sumenep dan sebagainya,” katanya.
Syaiful menuturkan, layanan Perpusling hampir setiap hari mengunjungi sekolah yang berbeda.
Pelaksanaannya juga kerap disesuaikan dengan kegiatan sekolah seperti class meeting atau agenda akhir semester. Sehingga siswa dapat memanfaatkan waktu luang untuk membaca.
Tak hanya melayani sekolah, Dispusip Sumenep juga menggelar layanan Perpusling setiap hari Minggu di kawasan Taman Adipura.
Program tersebut ditujukan untuk mendekatkan buku kepada masyarakat sekaligus membangun kebiasaan membaca di lingkungan keluarga.
“Untuk hari Minggu dilaksanakan di TB untuk mendekatkan buku kepada masyarakat. Banyak orang tua yang mengajak anaknya membaca buku di sana,” ungkapnya.
Meski mendapat antusiasme tinggi dari sekolah, Dispusip Sumenep masih menghadapi kendala keterbatasan armada.
Saat ini instansi tersebut hanya memiliki dua unit mobil perpustakaan keliling dan tiga kendaraan roda tiga. Namun, hanya satu unit roda tiga yang masih dapat dioperasikan.
“Armadanya cuma dua mobil, roda tiga ada tiga tapi yang bisa dioperasikan hanya satu,” ujarnya.
Akibat keterbatasan tersebut, tidak semua permohonan layanan dapat langsung dipenuhi.
Tingginya jumlah sekolah yang mengajukan permintaan membuat sebagian harus menunggu jadwal kunjungan.
“Sekolah yang minta banyak, akhirnya banyak juga yang tidak langsung bisa kami layani,” pungkas Syaiful.





